Skip to main content

Media Mainstream vs New Media

 Penulis : Ezra Axel

Ilustrasi media mainstream vs new media


                Kita sedang memasuki pergantian zaman dimana terjadi berbagai perubahan besar. Mulai dari perubahan cara hidup, cara berpikir, cara bekerja, dan masih banyak lagi. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah kehadiran internet. Internet membawa dampak yang cukup signifikan dalam kehadirannya di zaman ini. Dengan kehadiran internet, segala sesuatu yang tidak mungkin  menjadi mungkin, segala sesuatu yang sulit pun dibuat mudah oleh internet. Dampak yang diciptakan oleh internet menyebar begitu luas dan cepat hingga ke perubahan media.

                Media sedang berada dalam era baru yang ditandai dengan terjadinya konvergensi media. Konvergensi media adalah bergabungnya media telekomunikasi tradisional dengan internet. Dengan terjadinya konvergensi media, muncul apa yang dinamakan dengan media baru (new media).     Pelaku industri media yang jeli melihat peluang bahwa konvergensi media akan meningkatkan profit mereka dalam dunia bisnis. Konvergensi media memungkinkan terjadinya integrasi dalam industri media cetak, media penyiaran, dan media digital. Dengan adanya integrasi media, banyak perubahan signifikan yang terjadi.

                Perubahan signifikan yang pertama adalah jadwal publikasi. Dalam media tradisional, kecepatan penyampaiannya terbatas. Bagi para penikmat konten media cetak, mereka harus menunggu waktu terbit untuk mendapatkan suatu informasi. Dengan adanya konvergensi media, kecepatan penyampaian bisa dipercepat, berita dapat langsung diterbitkan. Kehadiran media online membuat kita menjadi lebih update mengenai informasi-informasi terbaru. Pelaku media didorong untuk bekerja lebih dinamis. Dengan media online, suatu kejadian yang terjadi di saat itu juga bisa langsung diangkat dan bisa disebarkan dengan begitu cepat di portal berita. Informasi real-time yang kita dapat sangat membantu kita mengetahui informasi-informasi terbaru yang aktual. Informasi yang disajikan pun lebih lengkap karena tidak terbatas ruang

                Perubahan signifikan yang kedua adalah jenis konten. Para penikmat media tradisional tidak bisa memilih konten informasi yang diinginkan. Kita hanya bisa melihat informasi yang sudah disajikan sebuah media cetak maupun media penyiaran yang bisa dibilang terbatas. Kita hanya bisa menikmati konten yang disajikan media tradisional pada saat itu juga. Dengan media online, kita bisa dengan leluasa dan bebas memilih informasi apa yang kita inginkan di suatu portal berita dengan lebih lengkap tanpa batasan ruang dan waktu. Kita juga menonton ulang siaran televisi yang tidak sempat kita lihat di platform-platform yang tersedia kapanpun kita mau.

                Perubahan signifikan yang ketiga adalah kapabilitas. Media tradisional menawarkan penyajian berita yang terbatas. Media cetak hanyalah sebatas teks dan gambar, media radio hanya sebatas audio, dan media televisi hanya sebatas video. Kababilitas yang ditawarkan media tradisional pada awalnya dianggap sangat cukup. Namun dengan adanya konvergensi media, kapabilitas yang ditawarkan media tradisional dirasa kurang atau bahkan dianggap tidak cukup. Media baru menawarkan terobosan besar dimana kita bisa mendapatkan teks, gambar, audio, dan video dalam satu konten informasi. Otomatis informasi yang kita dapatkan menjadi lebih lengkap dan akurat. Khalayak yang sebelumnya pasif menjadi aktif karena bisa berkomentar atau bertukar pendapat di kolom yang disediakan.

Jenis-jenis media 

                Masih begitu banyak perubahan positif yang signifikan dari konvergensi media. Namun, dibalik berbagai perubahan positif, diperlukan sikap kritis terhadap media baru yang membawa kita  kepada perubahan-perubahan negatif yang tersirat didalamnya.

                Media tradisional sangat mengandalkan disiplin verifikasi sehingga informasi yang didapat harus diuji dulu kebenarannya sebelum akhirnya disajikan sehingga memakan waktu cukup lama agar informasinya akurat. Lain halnya dengan media baru, media baru mementingkan kecepatan. Suatu informasi terbaru akan disajikan secepatnya mungkin tanpa terlalu mementingkan ketepatan kebenaran informasi. Sesuatu yang cepat belum tentu akurat. Oleh sebab itu kita sebagai penikmat yang harus bekerja lebih untuk memastikan kebenaran dan ketepatan informasi yang disajikan.

                Jika kita telaah lebih dalam, media tradisional berisi informasi-informasi yang penting untuk diketahui oleh khalayak, sedangkan media baru lebih memilih menyajikan sesuatu yang menarik bagi khalayak dibanding sesuatu yang penting. Khalayak lebih senang dengan informasi yang menarik dibanding informasi yang penting. Semakin banyak informasi menarik yang disajikan, profit perusahaan media yang didapatkan semakin besar.

                Media tradisional diketahui sebagai media yang mengedepankan kebenaran informasi. Lewat proses verifikasi, media tradisional menghasilkan informasi yang bisa dipercaya kebenarannya. Sedangkan media baru lebih mengedepankan informasi-informasi yang bersifat sensasi, tanpa mementingkan kebenarannya sehingga kebenarannya selalu dipertanyakan. Jaman telah berubah. Kita hidup di era dimana sesuatu yang bersifat sensasional jauh lebih menarik dibandingkan sesuatu yang jelas kebenarannya.

                Konvergensi media seakan-akan memaksa media tradisional berkolaborasi dengan internet untuk “bertahan hidup” di era yang baru ini. Tentunya melakukan konvergensi membutuhkan biaya yang cukup besar. Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam media yang melakukan konvergensi  kebanyakan berasal dari perusahaan ternama dan memiliki kemampuan finansial yang kuat, sedangkan perusahaan-perusahan media yang kemampuan finansialnya lemah harus bertahan dengan media tradisionalnya. Banyak yang masih bisa bertahan karena penikmatnya masih bertahan dengan bentuk medianya, namun tidak sedikit juga yang kehilangan penikmatnya sehingga terpaksa gulung tikar.

                Media merupakan pisau bermata dua. Media bisa jadi sangat bermanfaat, namun media juga bisa membunuh. Media yang baik pasti berpihak pada kebenaran disertai dokumen pendukung. Media yang baik mencari kebenaran, bukan mengklaim kebenaran. Media di negara demokrasi haruslah menjadi pengawas kekuasaan yang bekerja dengan netralitas yang tinggi dan menjunjung tinggi kebenaran.


Sumber foto

https://www.kompasiana.com/edsa/5ce6c37c6b07c55eda7eea0c/media-sosial-vs-media-mainstream

https://mindecology.com/strategy/pros-cons-traditional-media-denver-austin/


Daftar Pustaka

https://www.thecanadianencyclopedia.ca/en/article/media-convergence

https://www.britannica.com/topic/media-convergence

Comments

Popular posts from this blog

DRRI (Darurat Radio Republik Indonesia)

Penulis : Ezra Axel Logo Radio Republik Indonesia                     Televisi tetap menjadi media utama dan internet berkembang begitu pesat merangkul berbagai elemen masyarakat. Keadaan ini memunculkan pertanyaan, bagaimana nasib eksistensi radio di masa depan? Sebelum muncul radio-radio komersil yang kita kenal saat ini, radio di di Indonesia dipelopori oleh RRI atau Radio Republik Indonesia. RRI memiliki sejarah panjang dalam dunia penyiaran di Indonesia. RRI sempat merasakan masa-masa kejayaan, hingga masuknya radio-radio komersil yang membuat kejayaannya mederup. RRI sekarang sudah jarang terdengar di telinga masyarakat. Sebelum kita masuk ke topik, mari kita bahas sejarah berdirinya radio di Indonesia yang menjadi alat komunikasi dengan rakyat.                 Radio Republik Indonesia didirkan tepat sebulan setelah siaran radio Hoso Kyoku dihentik...

Jatuh Bangun Film Horor Indonesia

 Penulis : Ezra Axel Suzana, aktris film horor Indonesia Horor merupakan salah satu genre yang berkembang di dunia perfilman. Genre horror merupakan salah satu dari beberapa genre film yang masuk dalam kategori genre induk primer. Oleh sebab itu horror merupakan salah satu genre pokok yang telah ada dan berkembang sejak awal perkembangan sinema era 1900-an hingga 1930-an. Pada dasarnya film horror bertujuan untuk memberikan efer rasa takut, kejutan, serta terror bagi para penontonnya. Menurut kritikus film Amerika, Charles Derry, film horror dibagi dalam tiga sub-genre, yaitu horror of personality (horror psikologis), horror of Armagedon (horror bencana), dan horror of the demonic (horror hantu). Perkembangan film horor di Indonesia pasca kemerdekaan 1950-an dan seterusnya walaupun dari segi ide dan gagasan tidak terpengaruh oleh pemikiran bangsa lain, namun ide dan gagasan yang berkembang kebanyakan tetap terpengaruh pada tema-tema siluman. Pengaruh tersebut bisa dilihat tema-tema...

Dampak Internet

 Penulis : Ezra Axel Ilustrasi internet Internet merupakan jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan pesawat komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon (baik kabel maupun gelombang elektromagnetik). Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Untuk bergabung dalam jaringan ini, satu pihak (provider) harus memiliki program aplikasi serta bank data yang menyediakan informasi dan data yang dapat di akses oleh pihak lain yang tergabung dalam internet. Pihak yang telah tergabung dalam jaringan ini akan memiliki alamat tersendiri yang dapat dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yang menjadi server bagi pihak-pihak yang memiliki personal komputer untuk menjadi pelanggan ataupun untuk mengakses internet. Sejalan dengan perkembangan zaman, ke...